Tampilkan postingan dengan label PTAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PTAT. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Maret 2009

Pengaruh zat organik bagi biota dan struktur tanah

1. Kenapa zat organik bisa membantu biota tanah?

2. Kenapa zat organik bisa memperbaiki struktur tanah?

Bahan organik merupakan bahan-bahan yang dapat diperbaharui, didaur ulang, dirombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur yang dapat digunakan oleh tanaman tanpa mencemari tanah dan air. Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Bahan organik demikian berada dalam pelapukan aktif dan menjadi mangsa serangan jasad mikro. Sebagai akibatnya bahan tersebut berubah terus dan tidak mantap sehingga harus selalu diperbaharui melalui penambahan sisa-sisa tanaman atau binatang.


Sumber Bahan Organik

Sumber primer bahan organik adalah jaringan tanaman berupa akar, batang, ranting, daun, dan buah. Bahan organik dihasilkan oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis sehingga unsur karbon merupakan penyusun utama dari bahan organik tersebut. Unsur karbon ini berada dalam bentuk senyawa-senyawa polisakarida, seperti selulosa, hemiselulosa, pati, dan bahan- bahan pektin dan lignin. Selain itu nitrogen merupakan unsur yang paling banyak terakumulasi dalam bahan organik karena merupakan unsur yang penting dalam sel mikroba yang terlibat dalam proses perombakan bahan organik tanah. Jaringan tanaman ini akan mengalami dekomposisi dan akan terangkut ke lapisan bawah serta diinkorporasikan dengan tanah. Tumbuhan tidak saja sumber bahan organik, tetapi sumber bahan organik dari seluruh makhluk hidup.

Sumber sekunder bahan organik adalah fauna. Fauna terlebih dahulu harus menggunakan bahan organik tanaman setelah itu barulah menyumbangkan pula bahan organik. Bahan organik tanah selain dapat berasal dari jaringan asli juga dapat berasal dari bagian batuan.

Perbedaan sumber bahan organik tanah tersebut akan memberikan perbedaan pengaruh yang disumbangkannya ke dalam tanah. Hal itu berkaitan erat dengan komposisi atau susunan dari bahan organik tersebut. Kandungan bahan organik dalam setiap jenis tanah tidak sama. Hal ini tergantung dari beberapa hal yaitu; tipe vegetasi yang ada di daerah tersebut, populasi mikroba tanah, keadaan drainase tanah, curah hujan, suhu, dan pengelolaan tanah. Komposisi atau susunan jaringan tumbuhan akan jauh berbeda dengan jaringan binatang. Pada umumnya jaringan binatang akan lebih cepat hancur daripada jaringan tumbuhan. Jaringan tumbuhan sebagian besar tersusun dari air yang beragam dari 60-90% dan rata-rata sekitar 75%. Bagian padatan sekitar 25% dari hidrat arang 60%, protein 10%, lignin 10-30% dan lemak 1-8%. Ditinjau dari susunan unsur karbon merupakan bagian yang terbesar (44%) disusul oleh oksigen (40%), hidrogen dan abu masing-masing sekitar 8%. Susunan abu itu sendiri terdiri dari seluruh unsur hara yang diserap dan diperlukan tanaman kecuali C, H dan O.

Bahan Organik bisa Membantu Biota Tanah

Secara umum, pemberian bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme. Bahan organik merupakan sumber energi dan bahan makanan bagi mikroorganisme yang hidup di dalam tanah. Mikroorganisme tanah saling berinteraksi dengan kebutuhannya akan bahan organik karena bahan organik menyediakan karbon sebagai sumber energi untuk tumbuh.

Kegiatan jasad mikro dalam membantu dekomposisi bahan organik meningkat. Bahan organik segar yang ditambahkan ke dalam tanah akan dicerna oleh berbagai jasad renik yang ada dalam tanah dan selanjutnya didekomposisisi jika faktor lingkungan mendukung terjadinya proses tersebut. Dekomposisi berarti perombakan yang dilakukan oleh sejumlah mikroorganisme (unsur biologi dalam tanah) dari senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana. Hasil dekomposisi berupa senyawa lebih stabil yang disebut humus. Makin banyak bahan organik maka makin banyak pula populasi jasad mikro dalam tanah.

Bahan Organik dapat Memperbaiki Struktur tanah

Salah satu peran bahan organik yaitu sebagai granulator, yaitu memperbaiki struktur tanah. Menurut Arsyad (1989) peranan bahan organik dalam pembentukan agregat yang stabil terjadi karena mudahnya tanah membentuk kompleks dengan bahan organik. Hai ini berlangsung melalui mekanisme:
- Penambahan bahan organik dapat meningkatkan populasi mikroorganisme tanah, diantaranya jamur dan cendawan, karena bahan organik digunakan oleh mikroorganisme tanah sebagai penyusun tubuh dan sumber energinya. Miselia atau hifa cendawan tersebut mampu menyatukan butir tanah menjadi agregat, sedangkan bakteri berfungsi seperti semen yang menyatukan agregat.
- Peningkatan secara fisik butir-butir prima oleh miselia jamur dan aktinomisetes. Dengan cara ini pembentukan struktur tanpa adanya fraksi liat dapat terjadi dalam tanah.

- Peningkatan secara kimia butir-butir liat melalui ikatan bagian-bagian pada senyawa organik yang berbentuk rantai panjang.

- Peningkatan secara kimia butir-butir liat melalui ikatan antar bagian negatif liat dengan bagian negatif (karbosil) dari senyawa organik dengan perantara basa dan ikatan hidrogen.

- Peningkatan secara kimia butir-butir liat melalui ikatan antara bagian negatif liat dan bagian positf dari senyawa organik berbentuk rantai polimer.

Rabu, 25 Maret 2009

Mekanisme Air Asam Tambang

Irma Dinahkandy (H1E107009)

Dian Nitami (H1E107038)

A. Faktor – faktor yang mempengaruhi terbentuknya AAT

Beberapa mineral sulphida yang umum ditemukan pada kegiatan penambangan adalah:

  • FeS2: pyrite
  • Cu2S: chalcocite
  • CuS: cuvellite
  • CuFeS2: chalcopyrite
  • MoS2: molybdenite
  • NiS: millerite
  • PbS: galena
  • ZnS: sphalerite
  • FeAsS: arsenopyrite

Pyrite merupakan mineral sulphida yang umum ditemukan pada kegiatan penambangan, terutama batubara. Reaksi oksidasi pyrite adalah seperti ditunjukkan oleh reaksi kimia berikut, dengan air dan oksigen sebagai faktor penting (Anonim,2009).

Terbentuknya AAT ditandai oleh satu atau lebih karakteristik air sbb.:

  • nilai pH yang rendah (1.5 - 4)
  • konsentrasi logam terlarut yang tinggi, seperti logam besi, aluminium, mangan, cadmium, tembaga, timbal, seng, arsenik dan mercury
  • nilai acidity yang tinggi (50 - 1500 mg/L CaCO3)
  • nilai sulphate yang tinggi (500 - 10.000 mg/L
  • nilai salinitas (1 - 20 mS/cm)
  • konsentrasi oksigen terlarut yang rendah (Anonim,2009).


Faktor penting yang mempengaruhi terbentuknya AAT di suatu tempat adalah:

  • konsentrasi, distribusi, mineralogi dan bentuk fisik dari mineral sulphida
  • keberadaan oksigen, termasuk dalam hal ini adalah asupan dari atmosfir melalui mekanisme adveksi dan difusi
  • jumlah dan komposisi kimia air yang ada
  • temperatur
  • mikrobiologi

Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut, maka dapat dikatakan bahwa pembentukan AAT sangat tergantung pada kondisi tempat pembentukannya. Perbedaan salah satu faktor tersebut diatas menyebabkan proses pembentukan dan hasil yang berbeda. Oleh karena itu, terkait dengan faktor iklim di Indonesia, dengan temparatur dan curah hujan yang tinggi, proses pembentukan AAT memiliki karakteristik yang berbeda dengan negara-negara lain yang memiliki kondisi iklim yang berbeda (Anonim, 2009).

B. Faktor – faktor yang mempengaruhi pencemaran air tanah oleh Air Asam Tambang

a. Lapisan Tanah tempat air asam terbentuk

Tergantung pada jenis pertambangannya, kebanyakan air asam tambang terjadi pada tambang terbuka karena terjadi kontak langsung dengan udara dan air. Tanah sendiri terdiri dari beberapa lapisan. Air asam tambang yang terbentuk nantinya akan melewati beberapa lapisan tanah sebelum sampai ke muka air tanah. Air asam tambang yang lewat tadi dapat melarutkan logam logam berat yang terkandung sewaktu berada di cebakan maupun logam logam berat yang sudah terkandung di dalam tanah, yang nantinya logam berat tersebut dapat terakumulasi di Air tanah yang tercemari air asam tambang.

b. Porositas dan Permeabilitas Tanah

Porositas adalah kemampuan tanah dalam menahan cairan sedangkan permeabilitasnya adalah kebalikannya yaitu kemampuan tanah dalam melewatkan cairan. Semakin rendah tingkat porositas dan semakin tinggi permeabilitas tanah semakin cepat juga air asam tambang sampai ke sumber air tanah. Jenis tanah dengan permeabilitas tinggi akan mudah dilalui oleh air asam tambang, yang kemudian mengalirkannya sampai bertemu muka air tanah. Curah hujan yang tinggi pada daerah-daerah tertentu (daerah permeabel) dapat menyebabkan infiltrasi air menjadi lebih cepat.

c. Letak muka air tanah terhadap air asam tambang

Semakin dekat tempat cebakan tambang dengan muka air tanah semakin tinggi kemungkinan pencemaran yang terjadi pada air tanah oleh asam tambang, karena lapisan tanah yang dilewati tidak jauh sehingga tingkat keasamannya juga tidak sempat dinetralkan oleh lapisan lapisan tanah.

C. Mekanisme Pencemaran Air Tanah oleh Air Asam Tambang.

Hidrogeologi adalah suatu studi interaksi antara kerja kerangka batuan dan airtanah yang dalam prosesnya menyangkut aspek-aspek kimia dan fisika yang terjadi di dekat atau di bawah permukaan bumi. Berbicara hidrogeologi tidak akan lepas dari daur hidrologi sebagai berikut; evaporasi dari tanah atau air laut dan transpirasi dari tumbuh-tumbuhan – kondensasi dalam awan – presipitasi dalam bentuk hujan – infiltrasi dan perkolasi ke dalam tanah atau menjadi air limpasan (sungai dan danau) – kembali evapotranspirasi. Iskandarsyah, T. 2008

Di daerah pedataran dan kaki pegunungan yang memiliki vegetasi sangat lebat hujan akan meresap (infiltrasi) dengan baik ke dalam tanah, sedangkan di daerah lereng pegunungan yang cukup terjal hujan akan lebih cepat melimpas ke dalam saluran-saluran sungai daripada berinfiltrasi ke dalam tanah (kecepatan runoff atau kecepatan infiltrasi. Iskandarsyah, T. 2008

Air yang meresap ke dalam tanah akan membentuk suatu sistem aliran air bawah permukaan (airtanah), yang akan berbeda pada masing-masing daerah, tergantung dari litologi dan bentang alamnya. Litologi atau lapisan batuan yang mengandung airtanah disebut lapisan akifer. Berdasarkan sifat fisik dan kedudukannya dalam kerak bumi, akifer dapat dibedakan menjadi empat jenis, yaitu :

• Akifer bebas, yaitu akifer tak tertekan (unconfined aquifer) dan merupakan airtanah dangkal (umumnya <20>

• Akifer setengah tertekan, disebut juga akifer bocor (leaky aquifer), merupakan akifer yang ditutupi oleh lapisan akitard (lapisan setengah kedap) di bagian atasnya, dapat dijumpai pada daerah volkanik (daerah batuan tuf).

• Akifer tertekan (confined aquifer), yaitu akifer yang terletak di antara lapisan kedap air (akiklud), umumnya merupakan airtanah dalam (umumnya > 40 m) dan terletak di bawah akifer bebas. Airtanah dalam adalah airtanah yang kualitas dan kuantitasnya lebih baik daripada airtanah dangkal, oleh karenanya umum dipergunakan oleh kalangan ndustry termasuk di dalamnya kawasan pertambangan (Iskandarsyah, T. 2008).

Tanah adalah lapisan penutup permukaan bumi yang tidak terkonsolidasi, terdiri dari mineral dan bahan organik yang terbentuk akibat pelapukan batuan penyusun kerak bumi. Tanah tersebut dapat terbentuk dari batuan yang berada di bawahnya (residual soil) atau berasal dari batuan yang tererosi dari tempat lain (transported soil). Tanah residu dapat terdiri dari lapisan-lapisan yang disebut horison, mulai dari horison O (top-soil, didominasi oleh bahan organik), horison A (sub-soil, prosentase mineral lebih besar daripada bahan organik), horison B (didominasi oleh mineral yang menyusun partikel-partikel batuan yang sangat halus), dan horison C (bedrock, lapisan batuan yang belum teralterasi penuh).

Airtanah mengalir dari daerah yang lebih tinggi (daerah tangkapan) ke daerah yang lebih rendah (daerah buangan) menuju laut. Daerah tangkapan didefinisikan sebagai bagian dari suatu daerah aliran (catchment area) dimana aliran airtanah jenuh menjauhi permukaan tanah, sedangkan daerah buangan didefinisikan sebagai bagian dari catchment area dimana aliran airtanah menuju permukaan tanah. Kedudukan muka airtanah (pada akifer bebas) maupun muka pisometrik (pada akifer tertekan) merupakan hal yang penting untuk diketahui, karena mencerminkan kesetimbangan hidrodinamika airtanah di suatu daerah. Pengukuran kedudukan airtanah dapat dilakukan pada sumur gali penduduk atau pada sumur bor dalam waktu yang relatif sama dan dibedakan antara muka airtanah bebas dengan muka airtanah tertekan, sehingga hasil pengukuran hanya menggambarkan kondisi airtanah pada suatu waktu tertentu. Hasil pengukuran ini dituangkan menjadi suatu peta yang menggambarkan bentuk morfologi permukaan airtanah beserta arah alirannya (termasuk di dalamnya aliran permukaan), berdasarkan peta tersebut dapat dihitung gradien hidrolika (kemiringan muka airtanah) daerah bersangkutan. Namun demikian, kadang-kadang arah aliran airtanah pada daerah pertambangan agak sulit untuk ditentukan, seperti misalnya daerah satuan batugamping yang memiliki sistem rekahan yang cukup kompleks. Iskandarsyah, T. 2008

Seperti yang telah disebutkan diatas, air tanah sendiri utamanya bersumber dari air hujan yang meresap (berinfiltrasi) ke bawah melewati ruang pori diantara butiran tanah. Jadi mekanisme air asam tambang sendiri karena bentuk dasarnya adalah cairan maka utamanya pencemaran air tanah tidak lepas dari siklus hidrologi yaitu seperti dijelaskan diatas melibatkan diantaranya adanya presipitasi (hujan) dan infiltrasi.

Proses pencemaran airtanah di kawasan pertambangan dimulai dengan menyerapnya air dari presipitasi yang jatuh di atas landfill (timbunan overburden), bercampur dengan cairan yang telah terdapat dan terbentuk sebelumnya, membentuk suatu larutan yang disebut air asam tambang. Air asam tambang ini kemudian bergerak ke bawah menuju muka airtanah. Tanah dengan kandungan mineral lempungnya yang cukup besar dapat bertindak sebagai filter bagi terjadinya pencemaran airtanah. Namun karena keberadaan lempung pada tanah berbeda-beda, maka pada beberapa tempat dan situasi kemampuan tanah untuk memfilter akan berbeda sehingga tingkat pencemaran air tanahnya juga berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Iskandarsyah, T. 2008. Aplikasi Geologi Tata Lingkungan untuk Daerah Pertambangan. Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran. Bandung

Anonim. 2009. Apa Itu AAT? http://airasamtambang-apaitu.blogspot.com/2009/02/apa-itu-aat.html Diakses tanggal 25 Februari 2009.

Pencemaran

Pencemaran Air Tanah Oleh Air Asam Tambang

Beberapa teori mengemukakan bahwa unsur kimia air tanah dipengaruhi oleh kondisi alam dan kondisi limbah akivitas manusia. Kondisi alam antara lain dipengaruhi oleh batuan penyusun aquifer. Batuan terdiri dari satu atau lebih mineral; sedang mineral tersusun oleh satu atau lebih unsur kimia. Dengan demikian batuan penyusun aquifer terdiri dari sejumlah unsur kimia. Sehingga airtanah yang berada pada aquifer akan mengandung unsur kimia sesuai dengan unsur kimia yang terkandung pada batuan penyusun aquifer tesebut. Bentuk aktivitas manusia dapat berupa industri, pertambangan transportasi, kegiatan rumah tangga, kesemua itu akan menghasilkan limbah yang sebagian besar bercampur dengan airtanah, sehingga air tanah akan terpengaruh sifat-sifat fisika, kimia dan biologi dari jenis aktivitas manusia tersebut.

Salah satu yang berperan dalam pencemaran air tanah adalah sektor pertambangan Lahan tambang tidak akan terhindar dari kandungan sulfur, baik sulfur anorganik (yang berasal dari senyawa anorganik dalam bentuk mineral pirit dan markasit), maupun sulfur organik (yang terbentuk sebagai hasil kegiatan bakteri). Keberadaan sulfur akan mengakibatkan terjadinya air asam tambang (dengan pH 5-6). Air ini sebelum dialirkan ke badan air/sungai harus dinetralkan terlebih dahulu. Apabila hal ini tidak dilakukan, keberadaan air asam tambang akan mengakibatkan tercemarnya lingkungan.

Air asam tambang (AAT, acid mine drainage=AMD) merupakan salah satu persoalan lingkungan penting yang dihadapi oleh industri Pertambangan batubara. Karena tingkat kemasaman dan konsentrasi logam larutnya yang tinggi, AAT dapat mencemari lingkungan, terutama ekosistem akuatik seperti sungai dan air tanah. Air asam tambang merupakan cairan yang terbentuk akibat oksidasi mineral-mineral sulfida, terutama pirit (FeS2) yang menghasilkan asam sulfat Dengan tingkat kemasamannya yang tinggi, AAT dapat melarutkan mineral-mineral lain dan melepaskan kation-kation, seperi Fe, Mn, Al, Cu, Zn, Cd, Ni, dan Hg. Apabila terbawa ke sumber air, AAT dapat mendegradasi produktivitas biologis sistem akuatik tersebut. Pada kondisi parah, maka air menjadi tidak aman konsumsi dan penggunaan-penggunaan yang lain, seperti irigasi, industi, dan rekreasi. Oleh karena itu, AAT harus menjadi perhatian serius.

Reaksi terbentuknya AAT dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi seperti tersebut dibawah. Dalam persamaan reaksi tersebut, bahan mineral yang dioksidasi adalah pyrite(FeS2), namun reaksi yang sama juga berlaku untuk pembentukan AAT dari oksidasi pyrrhotite (FeS).
FeS2 + 7Fe2(SO4)3 + 8H2O = 15FeSO4 + 8H2SO4 (1)
FeS2 + Fe2(SO4)3 = 3FeSO4 + 2S (2)
4FeSO4 + O2 + 2H2SO4 bacteria = 2Fe2(SO4)3 + 2H2O (3)
2S + 3O2 + 2H2O bacteria = 2H2SO4 (4)
4FeS2 + 15O2 + 2H2O = 2Fe2(SO4)3 + 2H2SO4 (5)
S + 3Fe2(SO4)3 + 4H2O = 6FeSO4 + 4H2SO4 (6)
Seperti terlihat didalam persamaan reaksi, selain diperlukan adanya pyrite, keberadaan oksigen dan air sangat menentukan terbentuknya AAT. Dengan demikian pembentukanAAT dapat dicegah dengan menghindari kontak pyrite dengan oksigen (misalnya: dengan menempatkan mineral di bawah permukaan air) atau dengan mencegah kontak pyritedengan air (misalnya: menempatkan mineral di daerah yang kering). Pembentukan AAT juga dapat dihindari dengan mencegah pertumbuhan T. ferrooxidans dengan menggunakan bahan kimia. Hasil akhir reaksi adalah asam sulfat dan ferric sulphate.Asam sulfat merupakan produk antara yang penting. Pada awal oksidasi pyrite, pH turunsecara cepat dan kemudian stabil kembali pada nilai antara 2.5 – 3.0. Nilai pH akhir pada umumnya ditentukan oleh kebutuhan pH optimal bagi pertumbuhan strain bakteri yang terlibat di dalam reaksi. Jika pyrite dan/ atau pyrrhotite adalah mineral sulfida yang terbuka terhadap oksidasi atmosphere maka hasil reaksi seperti reaksi di atas. Tergantung pada keberadaan air dan oksigen, reaksi tidak selalu berlangsung sempurna seperti dinyatakan oleh persamaan 1sampai 6, dalam hal demikian maka produk antara merupakan senyawa kimia ataumineral tetap berada pada kondisi teroksidasi. Jika mineral logam (seperti galena –PbS), chalcopyrite ( FeS.CuS), sphalerite (zincsulphide, ZnS) terdapat bersamaan dengan mineral pyrite and pyrrhotite (biasanya terjadipada reaksi oksidasi deposit mineral yang berlangsung secara alami dan reaksi oksidasideposit tambang) maka akan terjadi efek sekunder akibat oksidasi mineral yangmengandung mineral mengandung besi-sulfur menjadi asam sulfat dan besi Ferric. Pada pH yang stabil (2.5 sampai 3.0) asam sulfat dan besi sulfat yang terbentuk menyebabkan ion ferric dapat berfungsi sebagai oksidator. Tanpa kehadiran ion ferricpada pH 2.5 – 3.0, asam sulfat dapat melarutkan beberapa logam berat yang terikatpada karbonat dan mineral oksida, namun memiliki sedikit efek terhadap logam berat yang terikat padasulfida. Dengan adanya ion ferric maka logam berat yang terikat pada sulfida, termasuk timbal,tembaga, seng, kadmium, akan terlarut menurut reaksi :
MS + nFe+++ = Mn+ + S + nFe++ (7)
Dimana:
MS = merupakan padatan logam berat yang terikat pada sulfida.
Fe+++ = ion ferric iron terlarut; Mn+ = ion logam berat terlarut; S = sulphur; Fe++ = ionferrous terlarut. Melalui proses inilah AAT dapat melarutkan sejumlah besar logam berat. Air asam tambang yang tidak dikelola dengan baik menyebabkan dua dampak lingkungan yang utama, yakni turunnya pH Terjadinya pengasaman yang disebabkan oleh asam sulfat dan terlarutnya logam berat yang disebabkan oleh ion besi. dan juga karena proses terjadinya air asam tambang dan terlarutnya logam berat merupakan proses yang terpisah (Sihotang,2008).

Air asam tambang jika sudah meresap atau terjadi infiltrasi ke dalam tanah dapat mencapai air atanah dan kemudian mencemari air tanah. Serta berbahaya bagi masyarakat yang menggunakan sumber sumber air dari sumur yang airnya bersumber dari air tanah yang tercemar air asam tambang khususnya masyarakat daerah sekitar penambangan.

Jumat, 13 Maret 2009

Resume tugas PTAT

Air dan Air Tanah (PTAT)

Oleh : Irma Dinahkandy


1. Peranan Air dalam Kehidupan

Kehidupan, sangat bergantung pada air. Air sendiri merupakan kebutuhan dasar seluruh makhluk hidup di bumi.

Pencemaran air dapat berasal dari :

Limbah domestic : merupakan limbah yang berasal dari kegiatan rumah tangga, perkotaan, perkantoran dan kegiatan masyarakat domestik lainnya.

Limbah Industri : merupakan limbah yang berasal dari berbagai kegiatan industri baik industri kecil, menengah maupun besar

Limbah pertanian : limbah yang berasal dari kegiatan pertanian dan bercocok tanam oleh masyarakat.

Air di bumi sangat erat ketersediannya dengan siklus hidrologi. Siklus hidrologi sendiri adalah dimuai ketika air laut mengap karena radiasi matahari menjadi awan kemudian awan yang terjadi oleh penguapan air bergerak di atas daratan karena tertiup angin. Presipitasi yang terjadi karena adanya tabrakan antara butir butir uap air akibat desakan angin, dapat berupa hujan atau salju. Setelah jatuh ke permukaan tanah, akan menimbulkan limpasan atau runoff yang mengalir kembali ke laut. Dalam proses untuk mengalir kembali ke laut beberapa diantaranya masuk ke dalam tanah (infiltrasi) dan bergerak terus ke bawah atau perkolasi ke dalam daerah jenuh atau saturated zone yang terdapat di bawah permukan air tanah atau yang juga dinamakan permukaan freatik. Air dalam daerah ini bergerak perlahan lahan melewati akuifer masuk ke sungai atau kadang kadang langsung ke laut.

Air yang masuk ke dalam tanah atau infiltrasi member hidup kepada tumbuhan namun ada diantaranya naik keatas lewat akuifer diserap akar dan batangnya, sehingga terjadi transpirasi, yaitu evaporasi ataupenguapan lewat tumbuh-tumbuhan melalui bagian bawah daun atau stomata. Air yang tertahan di permukaan tanah atau surface detention sebagian besar masuk kesungai-sungai sebagai runoff atau surface runoff ke dalam palung sungai

Permukaan sungai dan danau juga mengaalami penguapan atau evaporasi, sehingga masih ada lagi air yang dipindahkan menjadi uap. Akhirnya, air yang tidak menguap ataupun mengalami infiltrasi lalu kembali ke laut lewat palung palung sungai. Air tanah yang bergerak jauh lebih lambat mencapai laut dengan jalan keluar melewati alur alur masuk kesungai atau langung merembes ke pantai – pantai. Dengan demikian seluruh daur telah dijalani, kemudian akan berulang kembali, sehingga jumlah air di bumi adalah tetap dan konstan

Air seiring berkembangnya zaman, semakin mengalami peningkatan pencemaran. Karena pencemaran air, di beberapa tempat air tanah mulai mengalami penuruan kualitas. Perubahan kualitas air tanah sendiri diantaranya karena rembesan limbah cair domestic, industry, maupun pertanian( seperti pestisida).

Kelangkaan air bersih diperkotaan menjadi masalah yang mengancam kesehatan masyarakat.

Kita mencemari air dan sumber air kebiasaan manusia yang tidak ada habisnya yaitu membuang sampah sembarangan. Salah satu cara untuk mencegah terjadinya kelangkaan dan pencemaran air dan berhemat dalam penggunaannya. Dengan meningkatnya jumlah penduduk, sumber utama pencemaran di Indonesia adalah limbh domestik yang sumbernya diantaranya dapur, kamar mandi dan peturasan tinja. Apalagi jika rumah tangga tersebut tidak punya septic tank yang tidak memenuhu syarat atau langsung membuang kesungai.

Sumber pencemaran lainnya adalah limbah industri, baik industry kecil, menengah maupun besar. Industri kecil – menengah biasanya menggunakan teknologi sederhana, contohnya limbah tahu dan penyamakan kulit. Industri seperti ini biasanya banyak tapi sedkit yang mempunyai instalasi pengolahan limbah cair, sehingga potensi pencemaran air semakin besar.

Berikut proses pengolahan limbah cair industri kecil terpadu: Bahan baku pengganti mengalami proses produksi, kemudian mengeluarkan hasil prod dan hasil samping berupa limbah cair, kemudian limbah cair diberi perlakuan berupa pemisahan kemudian nantinya memasuki fasilitas pengolahan limbah cair atau limbah cair tersebut didaur ulang (dipakai kembali) yang nantinya dapat dipakai sebagai bahan baku pengganti. Kembali kepada fasilitas pengolahan limbah cair tadi, jika hasil keluarannya tidak sesuai standar maka dilakukan pemantauan baku mutu limbah cair, jika sudah sesuai standar dan cukup aman bagi lingkungan maka baru dibuang ke badan sungai atau badan air lainnya.

Industri besar wajib punya instalasi pengolahan limbah cair baik secara fisika kimia maupun biologis. Industri besar umumnya menghasilkan beragam limbah berbahaya dan beracun yang berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan makhluk hidup. Tidak semua pengolahan limbah cair perlu teknologi tinggi dan canggih maupun menuntut biaya mahal maupun besar. Yang dibutuhkan adalah sistem pengelolaan limbah yang tepat dan efektif atau minimisasi limbah melalui sistem produksi bersih, misalnya sampah dikelompokkan berdasarkan jenis atau asalnya seperti sampah dapur atau makanan, sampah kertas dan karton, atau sistem produksi bersih seperti pemanfaatan limbah yang di hasilkan. Pengelolaan limbah domestic yang terbaik wajib di mulai dari lingkup terkecil yaitu diri kita sendiri, contohnya membunag sampah pada tempatnya dan menghemat penggunaan deterjen,

Untuk wilayah perkotaan yang lahannya terbatas dapat dilakukan pengelolaan limbah secara komunal, contohnya beberapa rumah dalam radius 50 meter mempunyai 1 septik tank komunal yang menampung kumpulan limbah dari rumah rumah tsb. Hal ini dapat dilakukan melalui peran masyarakat dan sistem yang terpadu.

Untuk limbah indusrti kecil menengah terdapat sistem pengolahan limbah cair meggunakan teknologi yang sederhana dan tepat guna dengan biaya yang ringan, contohnya pengolahan limbah cair dengan teknologi Chrome recovery yang dilaksanakan di Desa Sukaregang, Garut, Jawa Barat, yang menerapkan cara dengan memanfaatkan kembali limbah yang tidak terpakai.

Bagi industry besar, pengolahan limbah harus dipandang tidak sebagai beban biaya operasional Karen menjalankan industry yang berwawasan lingkungan akan menjamin kelangsungan usaha dalam jangka panjang.

Proses pengolahan limbah B3, aspek aspeknya terdiri dari jenis dan karakteristik limbah B3, proses pengolahanya, dan hasil keluarannya.

a. Jenis dan karakteristik limbah B3 diantaranya: mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun(berdasarkan uji TCLP dan LD50), menyebabkan infeksi, bersifat korosif, limbah organik dan anorganik beracun.

b. Proses pengolahan: proses pengolahan dapat dengan cara fisika kima, solidifikasi dan stabilisasi, thermal, dan biologi.

c. Hasil keluaran: dapat berupa gas, cairan, padatan, yang memenuhi baku mutu emisis udara, memenuhi bakumutu limbah cair, memenuhi baku mutu limbah padatnya, memenuhi baku mutu total kadar maksimum TCLP, uji kuat tekan dan uji paint filter test, atau nantinya limbah tersebut ditimbun (landfilling).

2. Air Tanah dan Pergerakannya

Tanah dapat melewatkan air dalam berbagai cara. Pergerakan air dalam tanah sangat dipengaruhi oleh ukuran pori partikel tanah dan tekstur tanah.

Jenis tanah sendiri secara umum ada tiga yaitu sand, silt dan clay. Partikel sand merupakan yang paling besar, kemudian silt pertengahan dan yang paling kecil adalah clay.

Air mengalir dengan cepat pada makropori pada jenis tanah pasir dibandingkan dengan pori tanah pada silt. Terlebih dibanding dengan mikropori pada clay. Struktur tanah juga berdampak pada pergerakan air. Air bergerak cepat ke bawah pada struktur tanah yang partikelnya berbentuk granular disbanding dengan struktur tanah yang berbentuk pipih. Struktur lainnya diantaranya sub angular blocky dan prismatik.

Air juga mengalami berbagai bentuk pergerakan pada saat memasuki tanah. Jika tanah melewati lapisan bedrock misalnya, maka pergerakan air akan mengikuti bentuk batuan yang dilewatinya. Aliran air sendiri ada yang berbentuk kapiler dan ada yang berdasarkan gravitasi. Aliran kapiler adalah pergerakan air di dalam air tanah yang bergerak ke segala arah. Sedangkan aliran yang berdasarkan gravitasi adalah gerakan air kedalam tanah mengikuti arah gaya gravitasi, biasanya terjadi di dalam tanah yang jenuh.

Laju aliran air tanah dikendalikan oleh dua faktor yaitu hantaran hidrolik atau kemampuan tanah meneruskan air per satuan waktu, dan gradient potensial total yaitu perbedaan potensial persatuan jarak aliran.